BI Kalimantan Perkuat Peran Opinion Maker Jaga Optimisme Ekonomi di Tengah Dinamika Global

3 Menit Baca

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan sekaligus Koordinator Wilayah Kalimantan, Aloysius Donanto H.W menegaskan pentingnya penguatan komunikasi publik dan jejaring antar pemangku kepentingan dalam menjaga optimisme ekonomi di tengah dinamika global yang terus berkembang. 

Hal tersebut disampaikannya pada kegiatan Capacity Building Opinion Maker Wilayah Kalimantan bertema “Memperkuat Komunikasi, Menjaga Ekspektasi, Membangun Optimisme Ekonomi Kalimantan” di salah satu hotel di Kota Malang, Rabu (6/5/2026).

Aloysius menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat kapasitas, memperluas wawasan, serta membangun jejaring komunikasi antara insan media, akademisi, dan para opinion maker di wilayah Kalimantan.

“Dalam kondisi yang penuh dinamika saat ini, memperkuat kapasitas, memperluas wawasan, dan membangun jejaring komunikasi perlu kita lakukan bersama untuk memahami kondisi Indonesia, khususnya yang berdampak kepada wilayah Kalimantan,” ujarnya.

Ia menyoroti dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih berfluktuasi dan menjadi perhatian publik. Menurutnya, kondisi tersebut tidak cukup hanya dijawab melalui kebijakan Bank Indonesia, namun juga membutuhkan pemahaman bersama dari masyarakat agar mampu menyikapi situasi secara tepat.

“Bank Indonesia terus menempuh berbagai langkah stabilisasi. Namun masyarakat juga diharapkan memahami kondisi yang sebenarnya terjadi dan turut berkontribusi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, salah satunya dengan mengutamakan transaksi menggunakan rupiah dan fokus pada konsumsi produk domestik,” katanya.

Aloysius juga mengingatkan pentingnya pengelolaan transaksi secara bijak di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia menilai masyarakat perlu lebih selektif dalam melakukan konsumsi maupun transaksi valuta asing agar tidak memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Selain itu, derasnya arus informasi di era digital dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi insan media dan opinion maker. Menurutnya, banyak informasi yang berkembang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas sehingga diperlukan kemampuan untuk mengkalibrasi dan memverifikasi informasi sebelum disampaikan kepada publik.

“Tantangan kita, baik bagi jurnalis maupun opinion maker, adalah bagaimana memberikan pemahaman bahwa ada informasi yang beyond reality. Reality-nya harus kita lihat secara lebih proper supaya masyarakat bisa menyikapi fenomena dengan lebih baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, komunikasi publik yang dibangun secara kolaboratif antara media, akademisi, dan lembaga terkait menjadi penting guna memperkecil perbedaan perspektif dan menghasilkan informasi yang berdampak positif bagi masyarakat.

“Kalau ada hal-hal lain, mari kita konfirmasi bersama. Jadi kita tidak hanya menelan mentah-mentah informasi, tetapi juga mengkalibrasi sebenarnya seperti apa konteksnya,” tambahnya.

Aloysius juga menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai masih cukup baik di tengah tekanan global. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia relatif terjaga, termasuk kondisi ketenagakerjaan di Kalimantan yang mulai menunjukkan pergeseran struktur ekonomi di luar sektor pertambangan.

“Kita melihat nilai tukar rupiah memang bergejolak, tetapi di sisi lain pertumbuhan ekonomi bagus, inflasi juga bagus. Ini yang perlu dipahami lebih mendalam agar masyarakat memahami konteks dan relevansinya,” jelasnya. MC Kalsel/Fuz

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id

Bagikan Artikel Ini