PT Borneo Indobara Raih Platinum Gold di Icha-Isda 2026

6 Menit Baca

PT Borneo Indobara (PT BIB) meraih dua penghargaan dalam ajang Indonesian CSR Awards (ICA) dan Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2026.

Penghargaan Platinum diraih melalui program Sinar Indobara, sedangkan penghargaan Gold diperoleh melalui program Rumah Jamur Indobara. Kedua penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas upaya perusahaan dalam mengembangkan potensi lokal, memperluas peluang usaha produktif, dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah lingkar tambang.

Penghargaan diterima oleh Deputi COO PT Borneo Indobara, Riadi Siemka Pinem, yang mewakili perusahaan dalam acara penganugerahan pada Selasa, 29 September 2026, di Binakarna Hall, Hotel Bidakara, Jakarta.

Ajang yang diselenggarakan oleh Corporate Forum for CSR Development (CFCD) ini mengusung tema “Responsible Business in Supporting Asta Cita” dan diikuti lebih dari 100 perusahaan.

Penganugerahan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat nasional, antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Arifatul Choiri Fauzi, Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo J.E., serta Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut memperkuat pesan bahwa praktik bisnis yang bertanggung jawab dan program pemberdayaan masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Penghargaan Platinum diraih melalui Sinar Indobara, program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT BIB yang dijalankan sejak 2021 hingga 2026 di 22 desa Ring 1. Program ini mengembangkan pendekatan Cluster-based Integrated Farming System dengan mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan untuk mengoptimalkan potensi lokal, memperkuat ketahanan pangan, serta menciptakan sumber pendapatan masyarakat yang lebih beragam.

Pelaksanaannya dilakukan melalui pemanfaatan lahan tidak produktif, penguatan kelompok usaha, pelatihan, dukungan sarana produksi, dan pengembangan akses pasar.

Kolaborasi dengan pemerintah desa, koperasi, BUMDes, dan mitra pemasaran menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Hingga kuartal II 2026, program ini telah mendorong pemanfaatan 97,16 hektare lahan menjadi lahan produktif, terdiri atas 76,99 hektare untuk pertanian, 10,97 hektare untuk perikanan, dan 9,20 hektare untuk peternakan.

Sinar Indobara didukung oleh 158 kelompok usaha, meliputi 58 kelompok pertanian, 69 kelompok peternakan, dan 31 kelompok perikanan, serta tercatat menjangkau 2.466 kepala keluarga di 22 desa.

Dari sisi ekonomi, rata-rata pendapatan bulanan yang tercatat mencapai Rp2,9 juta per keluarga pada sektor pertanian, Rp2,8 juta pada sektor perikanan, dan Rp3,5 juta pada sektor peternakan.

Selain itu, evaluasi sosial ekonomi bersama LPEM UI untuk periode 2018–2024 mencatat penurunan jumlah keluarga prasejahtera dari 1.133 kepala keluarga menjadi 75 kepala keluarga, atau sekitar 93,38%. Capaian tersebut merupakan hasil evaluasi pada periode tersebut dan menjadi salah satu indikator perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Penghargaan Gold diraih melalui Rumah Jamur Indobara, program pemberdayaan yang dikembangkan pada periode 2024–2026 untuk memperluas peluang usaha produktif, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mendorong partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi.

Program ini membangun ekosistem agribisnis jamur yang mencakup budidaya, produksi baglog, pengolahan produk turunan, hingga pemasaran.

Rumah Jamur Indobara menjangkau 11 desa Ring 1 dan melibatkan 249 anggota kelompok, termasuk 243 perempuan. Hingga 2026, PT BIB telah mendukung pembangunan 54 kumbung jamur secara kumulatif, dengan 46 kumbung tercatat aktif. Pengembangan tersebut disertai pelatihan dan pendampingan teknis agar kelompok mampu meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan usaha, dan mengelola kegiatan secara mandiri.

Untuk memperkuat rantai produksi, pada 2026 program ini turut mendukung pembangunan satu unit pabrik baglog jamur untuk BUMDes. Fasilitas tersebut diharapkan meningkatkan ketersediaan bahan baku budidaya dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar.

Selain itu, dua kelompok telah menjalankan produksi baglog secara mandiri. Dari sisi hasil usaha, produksi jamur tercatat mencapai 10.833 kilogram pada 2025 dan 13.808 kilogram pada 2026.

Pendapatan usaha dalam dokumen program meningkat dari Rp324 juta pada 2025 menjadi Rp420 juta pada 2026, sementara populasi baglog tercatat mencapai 16.550 unit hingga periode pelaporan 2026. Pengembangan produk turunan seperti jamur kering, keripik, dan berbagai olahan makanan juga dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas serta membuka peluang usaha yang lebih luas bagi kelompok binaan.

Deputi COO PT Borneo Indobara, Riadi Siemka Pinem, menyampaikan bahwa penghargaan Platinum untuk Sinar Indobara dan Gold untuk Rumah Jamur Indobara menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kualitas program pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada dampak dan keberlanjutan.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga pada dampak dan keberlanjutannya. Kami percaya bahwa potensi lokal dapat berkembang menjadi sumber ekonomi produktif apabila didukung peningkatan kapasitas, pendampingan yang tepat, serta kolaborasi yang kuat antara masyarakat, pemerintah desa, dan para pemangku kepentingan,” ujar Riadi.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya diukur dari pelaksanaan kegiatan dan dukungan sarana, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha, mengembangkan kelembagaan, dan memperluas akses pasar.

Karena itu, PT BIB terus mendorong penguatan kapasitas kelompok agar manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Pencapaian dalam ICA–ISDA 2026 menegaskan pentingnya pendekatan pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan lokal. Sinar Indobara berfokus pada integrasi sektor pangan untuk memperkuat ekonomi desa, sedangkan Rumah Jamur Indobara mengembangkan komoditas lokal melalui rantai usaha yang mencakup produksi hingga pemasaran.

“Ke depan, PT BIB akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah desa, BUMDes, kelompok masyarakat, tenaga ahli, dan mitra terkait untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas peluang ekonomi, serta mendorong kemandirian masyarakat di wilayah operasional perusahaan,” tutup Riadi.

Bagikan Artikel Ini