Dampak Kemarau, PT BIB Pastikan Ketersdiaan Air Bersih Bagi Warga Tercukupi

4 Menit Baca

Dampak dari musim kemarau, perusahaan tambang batu bara PT Borneo Indobara (BIB) memastikan ketersediaan air bersih untuk warga yang berada di ring satu perusaaan terus tercukupi.

“Perusahaan BIB memiliki program air bersih andaru, ini merupakan salah satu upaya PT BIB memanfaatkan kolam bekas tambang untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar, khususnya untuk mendukung ketahanan air saat musim kemarau,” kata Empowerment & Development Dept Head PT BIB, Silvyna Aditia di Batulicin, Kamis.

Sebelum adanya andaru, pada musim kemarau sebagian masyarakat harus membeli air dari luar dengan biaya sekitar Rp75.000 per 1.200 liter, sehingga menjadi tambahan beban bagi rumah tangga.

Ia mengatakan, saat ini desa yang sudah mendapatkan aliran dari sumber andaru tidak lagi mengalami kesulitan air seperti tahun-tahun sebelumnya, terutama saat musim kemarau.

Pemanfaatan sumber air andaru direncanakan dapat dikembangkan untuk melayani hingga delapan desa secara bertahap, disesuaikan dengan kesiapan jaringan distribusi, infrastruktur, serta kelembagaan pengelola.

Untuk tahap yang sudah berjalan, pelayanan air dari andaru telah dimanfaatkan masyarakat di Desa Mekar Jaya dan Banjarsari.

Menurut Silvyna, PT BIB tidak hanya membangun sumber dan jaringan air, tetapi juga mendorong adanya kelembagaan pengelola di tingkat desa, sehingga operasional, pemeliharaan, pelayanan pelanggan, dan pengembangan sambungan rumah dapat dilakukan secara mandiri.

Selain andaru, perusahaan telah membantu pembangunan sistem penyediaan air di sejumlah desa lain menggunakan sumber yang menyesuaikan kondisi lokal, baik dari sumur bor maupun embung eksisting.

“Desa yang memiliki sistem air diantaranya Desa Jombang, Wonorejo, Sidorejo, Sumber Arum, Bunati, Makmur, dan Sumber Baru, dengan sistem distribusi melalui menara air/WTP dan jaringan sambungan rumah menuju masyarakat yang telah dilakukan oleh PT BIB,” jelasnya.

Silvyna melanjutkan, pada musim kemarau, desa-desa yang sistem airnya sudah berjalan tersebut relatif lebih siap memenuhi kebutuhan air masyarakat dan tidak mengalami kesulitan seperti sebelum fasilitas tersedia.

Pendekatan BIB dalam program air tidak menggunakan satu teknologi untuk seluruh desa. Karakteristik sumber air menentukan jenis treatment yang diperlukan sebelum air didistribusikan.

“Saat ini masih terdapat beberapa program yang sedang dalam proses pengembangan, antara lain di Sebamban Lama, Hatiif, dan Mangkalapi, yang direncanakan menggunakan air sungai sebagai sumber air baku. Karena menggunakan air sungai, sistem tersebut memerlukan treatment yang lebih lengkap seperti pengendapan, filtrasi, dan pengolahan melalui WTP, sehingga air yang masuk ke jaringan masyarakat memenuhi baku mutu sesuai peruntukannya,” tegasnya.

BIB tidak sekadar membangun fasilitas air, tetapi membangun sistem pelayanan air desa dari sumber, treatment, distribusi, Sambungan Rumah sampai penguatan pengelolanya.

Memasuki musim kemarau, desa-desa yang telah memiliki sistem air hasil kolaborasi PT BIB dan masyarakat kini lebih tangguh menghadapi keterbatasan sumber air.

Pemanfaatan kolam bekas tambang Andaru menjadi contoh bagaimana area pascatambang dapat dikembangkan menjadi sumber manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

“Model air bersih BIB disesuaikan dengan karakter setiap desa: void, embung, sumur bor hingga air sungai, dengan tujuan akhir yang sama yaitu akses air yang berkelanjutan dan dikelola masyarakat,” tutup Silvyna.

Bagikan Artikel Ini