Dorong Hilirisasi Subsektor Perkebunan, Gubernur Kalsel Ingin Tingkatkan Nilai Tambah Komoditas Unggulan Daerah

Sultan
3 Menit Baca

Dalam rangka mendukung program kerja Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, Suparmi menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong hilirisasi subsektor perkebunan guna meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.

Saat di temui diruang kerjanya, Suparmi menyampaikan bahwa Kalimantan Selatan memiliki empat komoditas perkebunan unggulan, yakni kelapa sawit, karet, kopi, dan kelapa. Dari keempat komoditas tersebut, hilirisasi yang paling berkembang saat ini adalah pada sektor kelapa sawit.

“Untuk hilirisasi kelapa sawit di Kalimantan Selatan, saat ini sudah berjalan dengan adanya pabrik minyak goreng dan pabrik biodiesel. Bahkan pada tahun 2024–2025, Kalimantan Selatan telah meluncurkan program biodiesel B50,” ujar Suparmi di Banjarbaru, Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan, pengembangan biodiesel B50 menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus mendukung program energi terbarukan nasional. Dengan adanya fasilitas pengolahan di dalam daerah, dampak ekonomi diharapkan semakin dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, untuk komoditas karet sebagai unggulan kedua, Dinas Perkebunan dan Peternakan terus mendorong arah hilirisasi yang lebih luas. Selama ini, produk karet daerah masih didominasi bahan olahan standar seperti LUM, SIR20, atau Brown Crepe.

“Kami berharap ke depan tidak hanya bergantung pada produk setengah jadi seperti LUM atau SIR20, tetapi dapat mendorong terbentuknya koperasi besar karet atau industri pengolahan yang lebih maju. Saat ini gagasan tersebut sedang dalam tahap penggodokan,” jelasnya.

Suparmi menegaskan bahwa pengembangan industri hilir secara langsung bukan berada dalam ranah kewenangan Dinas Perkebunan dan Peternakan. Namun demikian, pihaknya memiliki peran strategis dalam menjamin ketersediaan bahan baku.

“Ranah kami adalah memastikan produksi dan produktivitas tetap terjaga dan meningkat. Melalui program peremajaan karet dan intensifikasi karet, kami berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi karet di Kalimantan Selatan,” ungkapnya.

Program peremajaan dilakukan untuk mengganti tanaman karet tua dan tidak produktif dengan bibit unggul, sementara intensifikasi difokuskan pada peningkatan teknik budidaya, pemeliharaan, serta penguatan kapasitas petani. Langkah ini bertujuan memastikan pasokan bahan baku yang berkelanjutan guna mendukung pengembangan industri hilir karet di daerah.

Dengan strategi tersebut, Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan optimistis hilirisasi subsektor perkebunan akan semakin berkembang, memperkuat daya saing komoditas daerah, serta memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Kalimantan Selatan. MC Kalsel/scw

sumber : diskominfomc.kalselprov.go.id

Bagikan Artikel Ini