PT. BIB Kurangi ketergantungan BMM Import

Bilal
3 Menit Baca

Perusahaan tambang batubara milik PT Borneo Indobara di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan, mengurangi ketergantungan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM)
untuk mempercepat transisi energi bersih (biofuel), dan mengurangi emisi karbon.

Chief Operating Officer PT BIB, Raden Utoro di Batulicin Selasa mengatakan, untuk mendukuh hal tersebut kini PT BIB melakukan proses pembangunan jaringan transmisi, distribusi dan Gardu Induk BIB yang terhubung dengan Gardu Induk PLN untuk saluran listrik tegangan tinggi untuk mengantikan penggunaan BBM beralih ke program elektrifikasi dengan mengganti alat berat tambang berenergi listrik dan hybrid.

“Ditargetkan pada periode 2028 seluruh tahapan pembanguan akan terealisasi dengan pertumbuhan aliran daya listrik tegangan menengah hingga tinggi antara 40 MVA menuju 75 MVA dan 200-240 MVA,” katanya Utoro.

Ia menyakini, semua ini akan terealisasi berkat kerja sama dan kontrak jangka panjang antara PT BIB dengan PLN dalam mewujudkan program elektrifikasi dengan mengganti alat berat tambang berenergi listrik dan hybrid.

Untuk mendukung hal itu, PT BIB sudah mendedikasikan alat alat operasinya bertenaga listrik, untuk itu kami juga mohon kepada PLN khususnya wilayah KalSel yang selama 8 tahun terakhir memberikan pasokan yang reliable atau handal, untuk terus berlanjut dan bahkan tidak ada gangguan black out atau pemadaman bergilir.

Diumpamakan, jika listrik padam selama satu jam, maka seluruh alat alat tambang yang menggunakan cable akan berhenti dan yang menggunakan battery kehabisan daya sehingga pasokan batubara kepada pelanggan juga terganggu.

Menurut Utoro, program elektrifikasi alat-alat tambang BIB yang massive ini tidak terlalu berlebihan dan penerapan program inio sejalan dengan visi misi Presiden Probowo Subianto untuk mengiurangi ketergantungan BBM Import.

“Ada dua point yang sering disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto yakni kita tidak mungkin menghilangkan kemiskinan kalau masih import bahan pangan dan tidak bisa swasembada beras, kita tidak mungkin menjadi negara maju kalau kebutuhan energy, khususnya BBM masih mengandalkan import. Dan PT BIB mendukung hal tersebut salah satunga mengurangi ketergantungan BBM program elektrifikasi,” jelasnya.

Kebutuhan BBM equivalen itu sekitar 1,6 juta barrel per hari, sedangkan produksi dalam negeri sekitar 40 persen atau 60 persen tergantung import. Nilai import BBM dalam setahun dari pertanyaan Presiden yang dijawab menteri ESDM adalah Rp520 Triliun.

Kalau kita urai dari 520 Triliun tersebut, BIB sebelum beralih ke listrik menghabiskan Rp7 Triliun dalam setahun, maka untuk produksi batubara nasional dibutuhkan BBM kira kira senilai Rp140 Triliun dari Rp520 Triliun tersebut. Sepuluh tahun yang lalu hanya sekitar Rp165 Triliun karena kenaikan harga BBM sudah lebih dari 300 persen.

“Penerapan elektrifikasi merupakan bentuk komitmen PT BIB, menuju energy yang lebih bersih, demi mewujudkan green mining yang berkelanjutan dan mengurangi beban pemerintah untuk impor BBM,” tegas Utoro.

Bagikan Artikel Ini