Perusahaan tambang batu bara milik PT Borneo Indobara, terus berupaya memperkuat kemandirian usaha masyarakat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dengan menggelar pelatihan budidaya jamur.
“Kami baru saja melatih warga Desa Jombang, Sumber Makmur, Banjarsari, Sidorejo, dan Mekar Mulya cara membudidaya jamur, peserta yang mengikuti sebanyak 27 orang,” kata Pimpinan CSR PT BIB, Tri Andi Subagyo, di Batulicin, Selasa.
Tri menerangkan, program ini telah dirancang untuk menjawab salah satu tantangan utama yang dihadapi para pembudidaya, yaitu ketergantungan terhadap pasokan bibit jamur dari luar daerah yang berdampak pada tingginya biaya produksi baglog.
Melalui pelatihan ini, peserta dibekali kemampuan teknis untuk memproduksi bibit jamur secara mandiri sehingga diharapkan mampu menekan biaya produksi, meningkatkan efisiensi usaha, serta memperbesar margin keuntungan yang diperoleh kelompok budidaya jamur.
Sebelum pelaksanaan pelatihan, pada 15 Juni 2026, trainer bersama tim CSR PT Borneo Indobara melakukan kunjungan lapangan ke lima desa binaan yang mengembangkan budidaya jamur, yaitu Desa Jombang, Sumber Makmur, Banjarsari, Sidorejo, dan Mekar Mulya.
Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi kumbung jamur, proses budidaya yang sedang berjalan, serta mendengarkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh kelompok masyarakat dalam mengembangkan usaha jamur mereka.
Dalam kegiatan tersebut, trainer berdialog langsung dengan para pembudidaya untuk menggali informasi terkait proses produksi, kualitas baglog, manajemen kumbung, produktivitas panen, hingga kendala teknis yang sering dihadapi di lapangan. Hasil observasi dan diskusi tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan materi pelatihan sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan peserta.
Untuk memastikan peserta memperoleh materi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan usaha, CSR PT Borneo Indobara menghadirkan Wawan Gutama, seorang praktisi sekaligus pelaku usaha budidaya jamur dari Bogor yang telah berpengalaman dalam pengembangan bibit dan produksi jamur konsumsi.
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tahapan pembuatan bibit jamur, teknik sterilisasi, pengelolaan media tanam, standar kebersihan produksi, hingga strategi menjaga kualitas bibit agar mampu menghasilkan baglog yang produktif.
Selain sesi teori, peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan bibit jamur sehingga dapat memahami proses secara menyeluruh dan menerapkannya pada usaha budidaya yang sedang mereka jalankan.
Pelatihan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari seluruh peserta. Berbagai pertanyaan dan diskusi muncul selama kegiatan berlangsung, terutama terkait solusi atas kendala-kendala yang selama ini mereka hadapi dalam proses budidaya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman antar kelompok budidaya jamur dari berbagai desa.
Melalui pertukaran pengalaman tersebut, peserta memperoleh wawasan baru mengenai strategi pengelolaan usaha yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Trainer pelatihan, Wawan Gutama, menyampaikan bahwa potensi pengembangan usaha jamur di desa-desa binaan CSR PT Borneo Indobara cukup besar apabila didukung dengan peningkatan kapasitas teknis dan pengelolaan usaha yang baik.
“Saat melakukan kunjungan lapangan, saya melihat semangat masyarakat sangat baik. Beberapa kelompok sudah memiliki fasilitas budidaya yang cukup berkembang dan tinggal diperkuat dari sisi teknis produksi. Kemampuan membuat bibit sendiri akan menjadi langkah penting untuk meningkatkan efisiensi usaha, menjaga kualitas produksi, dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah,” kata Wawan.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan usaha budidaya jamur tidak hanya ditentukan oleh proses panen, tetapi juga oleh kualitas bibit yang menjadi fondasi utama dalam seluruh rantai produksi.

